Oleh
aye ndiri*
Benarkah Indonesia Tidak Mampu
?
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik
(BPS), jumlah penduduk miskin di Indonesia bertambah 3,95 juta orang, yakni
dari 35,10 juta orang pada Februari 2005 menjadi 39,05 juta orang pada Maret
2006.
Angka
tersebut dapat diartikan sebagai fenomena turunnya daya beli masyarakat
terhadap beragam konsumsi kebutuhan pokok.
Apalagi
jika kita perhatikan menurunnya ”daya beli” masyarakat terhadap biaya pendidikan
yang sedang direkayasa ke dalam nama-nama lain saat ini, di kala mereka masih
memiliki mimpi untuk mengalami pembelajaran di sekolah formal dan pendidikan
tinggi. Ironis.
Kenaikan
harga BBM tanggal 1 Oktober 2005 yang dipersiapkan pada tanggal 30 September
2005 saat mahasiswa se-Indonesia melakukan aksi dan audiensi kepada pemerintah
pusat dan anggota legislatif memang sudah sudah menambah angka kemiskinan
masyarakat Indonesia.
Menteri
Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra), Aburizal Bakrie pun menyadari
bahwa peningkatan jumlah penduduk miskin dipicu juga oleh kenaikan harga BBM,
seperti yang dinyatakannya dalam sebuah wawancara dengan wartawan kantor berita
Antara pada tanggal 6 September 2006. Namun, sangat disayangkan bahwa ia pun mendukung
adanya kebijakan impor beras tahun ini dengan alasan untuk memberikan beras
dengan harga murah bagi masyarakat yang daya belinya rendah.
Bila
demikian adanya, maka apakah ”pemiskinan” masyarakat dengan cara menaikkan
harga BBM bisa diobati dengan penurunan harga beras dengan impor beras.
Bukankah sebaiknya kita melakukan optimalisasi produksi beras dalam negeri
secara mandiri dan tidak menaikkan harga BBM.
Lalu,
jika demikian pula solusi pemerintah pusat saat ini, maka hal ini sama dengan
kesenangan oknum pemerintah daerah yang gemar mengadakan proyek jalan layang
tanpa mengelola kebijakan tentang jumlah kendaraan dengan alasan kemacetan.
Padahal proyek kemanusiaan seperti upaya pencerdasan masyarakat melalui
pendidikan dan upaya penyehatan masyarakat yang sering dilanda banjir musiman;
demam berdarah musiman; dan kurang gizi itu lebih penting ketimbang proyek
pembangunan sarana dengan frame-work
seperti itu.
Nah,
tahun 2006 ini pemerintahan SBY berencana akan mengimpor beras sebanyak 250
ribu ton yang kemudian ditolak secara tegas oleh 27 anggota DPR RI melalui
penggunaan hak interpelasi.
Apabila
kita melakukan kilas balik terhadap peristiwa yang terjadi pada tahun 2004 di
era pemerintahan sebelum SBY. Selama hampir enam bulan harga beras untuk
masyarakat Indonesia mengalami penurunan dan jumlah produksi beras dalam negeri
lebih besar dari jumlah konsumsi masyarakatnya.
Menteri
Perindustrian dan Perdagangan, Rini MS Suwandi sempat melarang impor beras
selama kurun waktu tersebut; dari tanggal 21 Januari sampai 30 Juni 2004 dengan
mengeluarkan Surat Keputusan Menteri
Perindustrian dan Perdagangan No. 9/MPP/Kep/1/2004 yang mengatur tentang
ketentuan impor beras.
Sehingga,
muncul pertanyaan klasik; apakah kita tidak merasa percaya diri bahwa negara
kita ini (red. Indonesia) mampu mencukupi kebutuhan konsumsi beras dalam negeri
dan harganya pun dapat dijangkau oleh masyarakatnya. Apalagi pada tahun 2005
ketika impor beras ke-1 dilakukan pemerintahan SBY, ternyata petani padi
Indonesia bisa ”menyumbang” beras ke Afrika dan Arab Saudi sekira 52.000 ton
pada April 2005.
Ritual Tahunan; Penyakit Impor
Beras
Pemerintah
Indonesia pada tahun 2002 pernah memiliki stok beras yang tersedia di Bulog
sebanyak 1,68 juta ton, lalu melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton. Namun,
keadaan yang lebih parah adalah ketika pemerintah Indonesia pernah memiliki stok
beras di Bulog yang lebih tinggi pada tahun 2003, yakni sebesar 2,2 juta ton,
impor beras tetap dilakukan sebanyak 655 ribu ton yang sempat memukul harga
dasar gabah kering di level petani padi yang dibombardir pula oleh beras impor
dari Thailand dan Vietnam pada Desember
2003.
Anehnya,
di masa pemerintahan SBY ini, Perum Bulog sering mengajukan permintaan kepada
pemerintah pusat untuk melakukan impor beras dengan alasan prediksi akan
kurangnya stok beras untuk konsumsi dalam negeri hingga mereka menyatakan bahwa
jika membeli beras dari petani padi dalam negeri itu kualitasnya rendah dengan
indikator kandungan kadar air yang terlalu tinggi. Memang ada daerah-daerah
yang mengalami un-predictable di
beberapa daerah yang terkena bencana alam, tapi itu tidak bisa dijadikan cover untuk menutupi kelemahan Perum
Bulog dalam mengantisipasi kekurangan stok beras dalam negeri karena selain
adanya kemungkinan terjadinya bencana setiap tahun, masalah ketidakseriusan
Perum Bulog dalam membeli gabah kering dari petani pun selalu terjadi dan
dilakukan dengan sengaja.
Beberapa
daerah surplus beras seperti di kalimantan dan Sumatera ternyata masih mampu
memberikan stok berasnya untuk daerah lainnya, jika Perum Bulog serius untuk
mengadakan langkah ”pengobatan” terhadap masalah kekurangan stok beras ini.
Sebenarnya
jika impor beras itu terpaksa dilakukan sebagai pengobatan akan masalah
kekurangan stok beras dalam negeri, selama ini itu impor beras ternyata malah
menjadi ”penyakit tahunan” bagi petani padi yang tingkat pengrusakannya jauh
lebih parah dan menambah jajaran faktor perusak usaha pertanian mereka, yakni
di antara hama dan tukang ijon.
Negara Peserta Lomba Impor Beras
Biasanya
negara-negara yang berlomba untuk mengambil kesempatan mengimpor beras ke
Indonesia adalah Thailand, Vietnam dan India. Salahsatu alasan negara-negara
tersebut melakukan impor beras ke Indonesia adalah, bahwa Indonesia dikenal
sebagai negara importir beras terbesar di dunia.
Sikap Petani
Saat
ini petani kesulitan menjual berasnya kepada Bulog karena mereka tidak mampu
menjualnya sesuai Harga Patokan pemerintah (HPP) yang masih rendah harganya.
Apakah Bulog tidak bisa mengupayakan solusi bagi masalah ini. Bukankah mereka digaji
untuk bekerja bersama para petani-petani Indonesia. Semoga mentalitas ”menunggu
sampai bencana datang” tidak terjadi di bidang ketahanan pangan negara kita.
Bila
kita amati peristiwa pada Agustus 2006
lalu terjadi aksi protes para petani bawang merah yang melemparkan ratusan
bawang merah hasil panen mereka ke jalan akibat adanya kebijakan impor bawang
merah dari pemerintah Indonesia.
Apakah
hal serupa akan terjadi pada para petani beras karena saking merasa
dirugikannya, mereka melakukan aksi membuang sebagian hasil keringatnya
sendiri.
Peran
pemerintah Indonesia hingga saat ini dipertanyakan dalam mengantisipasi
kekurangan stok beras dalam negeri.
Program
ketahanan pangan negara ini belum lagi dinyatakan kedahsyatannya oleh
pemerintahan SBY, apalagi sampai mengadakan kegiatan mobilisasi potensi dalam
negeri untuk sebuah proyek kemandirian di bidang pertanian padi yang sekaligus
juga bisa menghapuskan predikat Indonesia sebagai negara importir beras
terbesar di dunia.

Dukungan Mahasiswa
Dukungan mahasiswa yang empatik terhadap permasalahan petani padi Indonesia tentu sangat dinantikan. Dalam
hal ini peran mahasiswa
dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah tentang impor beras sangat
dibutuhkan. Peran mahasiswa yang positif dalam menyikapi kenyataan yang
merugikan petani padi di Indonesia seperti ini diharapkan pula mampu membimbing para
petani padi tersebut dalam menyikapi masalah ini secara cerdas agar
mereka tidak cenderung terhadap perbuatan yang mengandung unsur
keputus-asaan.
Tak
perlu petani membuang hasil keringatnya sendiri karena masih ada
jalan konstitusi yang bisa memperjuangkan hak mereka untuk mendapat
keadilan dalam berusaha dan berdagang.
Perih
memang. Usaha petani padi mengais nafkah setelah berbulan-bulan harus
dijegal dengan impor beras yang merugikan hasil panen mereka.
Adapun mahasiswa, ia
mungkin dapat bersikap empatik sekadarnya saja terhadap masalah
penderitaan petani padi ini. Namun, setidaknya itulah yang bisa mahasiswa
kerjakan. Pekerjaan ini adalah sebuah
pekerjaan kemanusiaan.
Mahasiswa dapat melakukan aksi "tolak impor beras" secara massive
sebagai aksi solidaritas-empatik terhadap nasib petani padi Indonesia
karena pemerintah sudah terlalu rutin merancang kebijakan impor beras
secara matang dibanding merancang persiapan untuk memproduksi beras
guna memenuhi target ideal ketahanan pangan dalam negeri.
Kemudian, mahasiswa pun harus mampu melakukan kajian prefensial yang dinyatakan ke dalam sikap
intelektualnya terhadap masalah ini dengan cara melakukan dialog solutif tentang
cara penanggulangan masalah kekurangan stok padi setiap tahun bersama Menteri
Pertanian, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Perum Bulog dan Komisi IV DPR
RI. Kemudian, yang paling penting adalah menyatakan hasil dialog tersebut, jika
dihasilkan sebuah konsep praktis tentang penanggulangan masalah kekurangan stok
beras yang sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan masyarakat Indonesia, maka eksekutor
negara bersama seluruh elemen terkait harus melaksanakan hal itu dengan
sebenar-benarnya. Jika tidak, maka kenyataan pahit, ”hidup di Indonesia
bagaikan hidup di negeri penjajahan” harus dilawan.
Takkan berhenti kita beraksi
selama tirani masih membumi.
Selamat berjuang rakyat Indonesia
!
Selamat berjuang mahasiswa
pembaharu bangsa !
(Dari berbagai sumber)
*) penulis adalah aye ndiri