Ringkasan Surat U/ Wakil Rakyat (1)
Kepada Yth,
Fraksi (Parpol)
Bandung, 26 Juni 2006
di
tempat
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Kepada Bpk/Ibu Tercinta di Jalan Allah.
Saya ingin menginformasikan beberapa hal berikut yang diharapkan dapat
menjadi salahsatu alternatif solusi bagi masalah yang ada saat ini.
Meski, alternatif ini tidak serta-merta merupakan alternatif terbaik,
namun saya mencoba untuk berkontribusi bagi para pejuang di legislatif
yang saya pilih.
1. ALTERNATIF SOLUSI PREVENTIF PENANGGULANGAN BENCANA
Setelah mengamati beragam kasus bencana alam di Indonesia, maka
alangkah baiknya anggota parlemen mengingatkan pemerintah untuk membuka
mata hati dan mata fisiknya dalam mencegah sedari dini, terhadap segala
macam bencana yang bisa terjadi seperti longsor dan banjir dengan
koordinasi dari Badan Penanggulangan Bencana.
Jika gempa bumi
adalah contoh bencana yang tiba-tiba, maka pengamanan daerah rawan
gempa harus diperbaharui agar meminimalisir korban jiwa dan
infrastruktur. Bukankah kita mempunyai catatan sejarah gempa.
Namun, untuk masalah longsor atau banjir-hal ini bisa dideteksi secara
dini, apalagi dengan kerjasama solid di tingkat Desa/RW/RK/RT.
Memang mereka bukan PNS dan tidak mendapat gaji, jadi tolong
perjuangkan hak kesejahteraan mereka agar bisa bekerja dengan loyalitas
yang baik serta kontributif kepada rakyat desanya. Karena siapa lagi
tokoh pemerintahan terbawah kalau bukan mereka--Para pengurus
Desa/RW/RK/RT.
Jangan biarkan mereka setia kepada partai yang
ngasih UANG tiap Pilkada atau Pemilu Nasional+Pilpres. Saya khawatir
fenomena ini semakin kuat menjadi industri politik terbesar bagi oknum
pengurus Desa/RW/RK/RT.
2. ALTERNATIF SOLUSI UJIAN AKHIR NASIONAL
Pertama, saya setuju ada Ujian Nasional ke-2 atau Ulangan.
Kedua, saya ingin mewacanakan solusi tentang Ujian Nasional di masa depan, yaitu sebagai berikut :
Jika Ujian Akhir Nasional adalah ujian kelulusan, maka yang harus
diukur adalah seluruh potensi siswa SD,SMP & SMU yang mengikuti
ujian tersebut.
Bukankah manusia memiliki Multiple Inteligencies
yang bisa diukur secara KUANTITATIF. Apalagi sudah ada beragam mata
pelajaran di SD, SMP, dan SMU yang dipelajari oleh para pembelajar
(siswa), maka hal itu sebaiknya dimasukkan ke dalam Ujian Akhir
Nasional dan dinilai dengan adil.
Jangan sampai ledakan persepsi :
"jika hanya 3 mata pelajaran yang diujikan, maka buat apa belajar Olah Raga di sekolah ?"
atau
"ya, sudahlah gak usah ada pelajaran lain di kurikulum nasional kecuali 3 mata pelajaran yang diujikan dalam UAN."
Alternatif solusi :
a. Jika mau diukur keberhasilan kinerja guru & potensi siswa dengan
UAN, maka ukurlah semua aspek potensinya. Artinya, ujikan seluruh mata
pelajaran yang diberikan dan buatlah standar kelulusannya.
b. Jika
hanya beberapa mata pelajaran yang akan diujikan, maka kelak siswa
kelas akhir dapat diuji lagi sesuai dengan pilihan jurusan/program
studi/departemen yang ada di sekolah lanjutan berikutnya atau
pendidikan tinggi sekalipun.
HANYA :
Untuk siswa SD ke SMP
atau SMP ke SMU belum ada penjurusan di kelas awal ("kelas 1").
Kecuali, jika ingin digagas, maka penjurusan sebaiknya dari kelas awal
dan tidak di akhir tingkatan kelasnya.
Bukankah pada akhirnya,
seorang siswa yang mahir dalam kemampuan dasar yang diperolehnya di SD
akan melanjutkan ke SMP sebagai perbekalan yang lebih khusus untuk
belajar di SMU. Jadi sudah saatnya, pendidikan Indonesia disesuaikan
dengan kebutuhan akan PENGEMBANGAN KHUSUS TERHADAP KOMPETENSI SISWA
YANG KHUSUS PULA.
Apalagi siswa SMU yang akan menuju pendidikan
tinggi, maka jurusan seni rupa pasti ujiannya beda dengan jurusan
fisika. Sehingga, siswa SMU atau SMK sekalipun, harus dipersiapkan di
sekolah menengah supaya dapat bekerja; membuat lapangan kerja; atau
ikut kuliah sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.
Maaf, jika
menjamurnya "Pusat Bimbingan Belajar" di Indonesia saya persepsikan
sebagai salahsatu obat manjur terhadap kualitas PBM di SD, SMP, dan SMU
yang belum baik; belum cukup bermanfaat; dan atau belum cukup untuk
memenuhi kebutuhan para siswa.
Mohon maaf atas kekurang dan kesalahan.
Billaahit-taufiq wal hidaayah.
Wassalaam. Wr. Wb.
Terima Kasih,
Ttd
Defathya